Skip navigation

Kenapa judulnya bahasa Inggris? Simpel aja, karena saya tidak menemukan kata-kata lain dalam bahasa Indonesia yang lebih ‘mengena’ tentang apa yang akan saya sampaikan.
Jadi begini…

Pada permulaan kehidupan, kepribadian seseorang belum terbentuk. Bagaikan kertas putih yang belum ternoda. Masih bersih sama sekali dan menunggu untuk diisi dengan hal-hal baru. Seperti awal mula terciptanya blog ini *halah[!]*
Ketika seseorang atau pribadi tersebut mulai mampu untuk berpikir sebagaimana mestinya, dia akan mulai mendapatkan kendali. Dia akan mulai memiliki suatu pola pikir tersendiri; entah itu muncul dari dirinya sendiri, maupun dari hal lain. Dia akan mulai mendapatkan gaya tersendiri tentang bagaimana menyikapi suatu hal. Sehingga ketika dia menemui suatu permasalahan, dia tahu apa yang mesti dilakukan tanpa perlu bimbingan orang lain lagi. Pribadi tersebut dapat menentukan poin-poin permasalahan yang dia hadapi dan dapat menyelesaikannya satu-persatu. Jadi dengan kata lain, pribadi yang saya paparkan tadi telah memiliki suatu pola pikir yang jelas, alias sudah memiliki garis besar suatu pemikiran.

Gaya pemikiran masing-masing pribadi tidak sama.
Ada yang ketika melihat bahwa orang lain melakukan sesuatu yang mampu mengundang decak kagum banyak orang, maka pribadi tersebut segera berpikir: ‘ah, saya bisa melakukannya lebih baik daripada dia’. Ada juga ketika melihat hal yang sama, dia berpikir: ‘memang itulah keahliannya’. Sementara itu, ada juga yang: ‘aku harus mengalahkannya’.
Jadi gaya pemikiran tiap-tiap jati diri seseorang berbeda satu sama lain.

Tidak sampai di situ saja, dalam prosesnya untuk mencapai suatu keutuhan jati diri, sosok pribadi tersebut akan mendapat banyak rintangan yang sedikit banyak menggoyahkan jati dirinya. Rintangan yang saya maksud di sini adalah suatu pemahaman-pemahaman tertentu yang bertentangan dengan dirinya. Dampak dari rintangan tersebut relatif, yakni bisa positif dan bisa berdampak negatif. Dikatakan positif apabila rintangan tersebut dapat membuat dia semakin kuat dalam pendiriannya dan dikatakan negatif jika sebaliknya.

Seiring dengan berjalannya waktu, dia akan memasuki suatu keadaan yang tidak biasa, benar-benar lain dari biasanya dan sangat berpengaruh. Sedemikian besar pengaruh peristiwa yang dialaminya itu, hingga benar-benar mengguncang jati dirinya. Setiap orang pernah mengalaminya.

Lebih baik saya berikan beberapa contoh

…Seorang anak muda, dulu orangnya serba rapi, elegan, semua yang sedap dipandang. Prestasi sekolahnyapun baik. Suatu ketika ada sebuah lagu yang sangat menarik di telinganya. Ketertarikan itu membuat dia begitu suka menyenandungkan lagu tersebut, berlanjut dengan keingintahuan tentang siapa pengarangnya, grup bandnya, semuanya. Maka dia pun mulai mencari informasi tentang segala yang berkaitan dengan grup band kesukaanya itu. Lama-kelamaan anak muda tersebut semakin mengenal segala seluk-beluk tentang grup band yang digemarinya tersebut. Tidak berhenti di situ saja, ia mulai mengikuti gaya hidup mereka. Gaya pakaiannya, gaya berbicara, sampai-sampai cara berpikir mereka, semua dia ikuti. Maka, dia kehilangan jati dirinya yang awal, tergantikan oleh hal-hal yang tidak sesuai. Mulai hidup sembarangan, berbicara sembarangan, prestasi sekolah menurun, hingga dia tidak dapat mengenali dirinya yang lama lagi…

…Contoh lain, yang mungkin sudah sangat sering terjadi, adalah tentang seseorang yang pindah agama hanya karena bujuk rayu sang pacar. Sedemikian cintanya seseorang pada pasangannya, hingga dia tidak dapat mendengarkan kata hatinya sendiri dan beralih kepercayaan…

…Masih banyak lagi contoh-contoh lain yang ada di sekitar kita…

Jadi saatnya bertanya pada diri sendiri, apakah benar bahwa jati diri kita yang sekarang ini adalah jati diri yang sesungguhnya?
Coba ditilik ke belakang, adakah suatu keadaan atau kejadian yang tidak biasa yang terjadi di masa lampau sehingga mengubah diri kita?
Mungkin selama ini tanpa disadari manusia telah melenceng dari dirinya yang sesungguhnya. Sehingga jangan heran kalau tiba-tiba seorang teman dekat berkata: “Kamu kok sekarang jadi lain ya? Kayaknya dulu kamu nggak seperti ini dech..”. Pada saat itu, barulah biasanya seseorang tersadar.

Memang, manusia itu dinamis, dan Anda tentu tak mau dikatakan ketinggalan jaman atau apa pun namanya. Tapi yang saya mau tekankan di sini adalah bagaimana kita menyikapi sesuatu dengan cara kita sendiri. Bagaimana kita menghadapi suatu permasalahan dengan cara yang paling sesuai bagi kita sendiri. Tidak terpengaruh orang lain. Dan tentunya semuanya itu tidak terlepas dari pemahaman akan pribada masing-masing.

Kesimpulannya, pertahankan konsistensi diri masing-masing, jangan sampai pandangan-pandangan pihak lain mempengaruhi atau bahkan mengubah konsep-konsep dasar pemikiran yang kita miliki.
..
..
..
..
..
..
..
..
Are you sure that you are you?
Just be yourself!

Advertisements

32 Comments

  1. Pertamax!!! 😆 *ditabok*

    Ah, tulisan yang mencerahkan 🙂

    Ahem, to the point. Kalau saya perhatikan, kejadian ini terlihat sangat jelas, bahkan pada bangsa kita sendiri. Nggak heran kalau orang suka pada bilang jika bangsa Indonesia telah kehilangan jati diri. Jadi? 😕

  2. Contoh pertama…Istilah sosiologinya, imitasi (CMIIW).
    Menurut saya ini wajar di mana seseorang masih melakukan pencarian jati diri, karena pada hakikatnya nggak ada yang bisa dikatakan “jati diri asli” pada diri manusia, karena manusia itu memang cenderung untuk berubah, sadar atau nggak sadar. 😀

    Bagi saya sendiri, dimanis dan perubahan itu sesuatu yang sangat-sangat lumrah. Tapiiii… Ini menyoal konsepsi diri sendiri. Jika ia memang sadar benar dan telah mengkaji segala sesuatunya dengan penuh pertimbangan dan yakin-seyakin-yakinnya. Tidak sekadat ikut-ikutan saja.

    Saya akan sangat kagum dan salut pada seseorang yang memilih menjadi atheist karena dirinya sendiri, karena yang dia pikir, dia rasa, dan kesadaran penuh, tanpa ada pengaruh orang lain.

    “Kalau cuma ikut-ikutan, bah…masih anak-anak kau…” 😆
    — seorang mahasiswa psikologi yang kecanduan game online

  3. @ Cynanthia :
    Selamat atas pertamaxnya *ngga ngurus*

    Mencerahkan? Ah, hanya sebuah pandangan sederhana.

    Bangsa kita kurang lebih keadaanya memang seperti yang kamu sebutkan. Saya kadang-kadang berpikir bahwa kita mesti dijajah lagi supaya jiwa nasionalisme yang yang sempat memudar bisa tumbuh kembali.

    @ Rozenesia :
    Pencarian jati diri itu memang dan pasti akan terjadi, tapi yang kita fokuskan di sini adalah bagaimana seseorang dapat mengelola dinamika jati dirinya sendiri tanpa diatur-atur oleh pihak lain. Nggak mungkin dong, orang lain yang membuat kita jadi gini, jadi gitu. Tulisan ini dimaksudkan agar kita tidak lepas kendali akan diri sendiri.

    Tidak sekedar ikut-ikutan? Itulah poin yang saya maksudkan.

  4. Ah… tahap imitasi. 😛 Katanya menurut beberapa sumber yang saya baca, tahap ini justru lebih bisa terjadi pada anak kecil; mengikuti tanpa tahu peran sesungguhnya.

    Dan eh ya… apakah ini bisa dibilang mendekati dengan pelarian juga? :mrgreen:

    Kesimpulannya, pertahankan konsistensi diri masing-masing, jangan sampai pandangan-pandangan pihak lain mempengaruhi atau bahkan mengubah konsep-konsep dasar pemikiran yang kita miliki.

    Nice; setuju. :mrgreen:

  5. Apa mungkin karena jati diri kita telah ‘dicuri’, makanya kita kehilangan jati diri? 😕 :mrgreen: *ditabok karena mengeluarkan teori ngaco*

  6. Hemm… menyoal jati diri bangsa Indonesia, kayaknya saya lebih setuju kalau rakyatnya yang kehilangan jati diri. 😛
    Tapi mungkin ini biasanya lebih cenderung ke kalangan menengah ke atas, dan pada usia 7~50 tahun. Untuk yang kalangan menengah ke bawah dan yang umurnya lebih tua, menurut saya justru lebih mempunyai ‘jati diri’ dibanding yang lain. 🙂

    *pendapat ngawur tanpa penelitian*

  7. @ Xaliber von Reginhild [1] : Anak kecil memang pasti mengalami tahap imitasi. Namanya juga anak kecil, masih polos, imut, nggemesin. Duh, lucunya..

    Pelarian? Nggak ada sangkut pautnya kok. Tapi entah juga kalau dilihat dari sudut pandang lain. Sudut pandang tiap orang kan tidak sama.

    @ Cynanthia : Karena jati diri kita telah ‘dicuri’ sehingga kehilangan jati diri? Duh, jangan sampai segitunya deh, stress membayangkannya.

    @ Xaliber von Reginhild [2] : Jati diri rakyat Indonesia kayaknya mesti dipertanyakan *kurang kerjaan*

  8. sip sip… be your self memang perlu. Tapi kalo berlebihan bisa jadi sombong dan keras kepala kan? 🙂

  9. @ alief : Selamat datang sebelumnya.
    Berlebihan atau tidak, tergantung kitanya masing-masing. Kalau mau dipandang buruk, bisa ditambahkan unsur-unsur kesombongan atau semacamnya. Kalau ingin sebaliknya, maka kita akan berinisiatif untuk bertindak sebagaimana mestinya.
    .
    .

  10. Berpegang teguh pada pribadi memang ada baiknya. tapi ada bayaran yang mahal.

    Contohnya dalam dunia serba peraturan di sini.
    Jadi saya bertanya… “Kenapa sekolah?”

  11. wuih… thx iah, dah bkunjung…

  12. @ Lemon S. Sile : Ya, walaupun sulit, tapi bisa dilakukan secara bertahap.

    “Kenapa Sekolah?”?
    Mungkin maksudnya yang saya percontohkan tadi. Dalam sekolah, kitapun mesti jadi diri sendiri, yakin pada diri sendiri. Sehingga mencontek pun kita tak kan sudi. Sulit memang, namun bisa dilatih sedikit demi sedikit.

    @ rizoa : Sama-sama. Terimakasih juga atas kunjungannya. Postingan saya ini sudah dibaca, kan?
    .
    .

  13. Generasi tua masih punya jati diri, sementara mereka mempunyai idola dalam hidup mereka, mereka tidak serta-merta mengambil seluruh budaya mereka.

    Itulah yang berbeda di mata anak – anak remaja sekarang.

    Jadi tahu kalau anak di sebelah saya sedang mendengarkan A7X.

  14. memang sulit menjadi diri sendiri , kadang kita mudah sekali terpengaaruh .

  15. Yah, kadang2 kita sendiri tidak tahu kita mau jadi apa, maunya sih jadi be yourself, but which yourself?? Memang seharusnya kita jadi diri kita sendiri, namun terkadang pengaruh luar ada yang ‘memperbaiki’ diri kita dan ada juga yang ‘memperburuk’ diri kita, jadi yang penting selain menjadi ‘be yourself’ juga menjadi ‘be better’! (dengan asumsi tentu kita mengerti mana yang baik dan mana yang buruk!) :mrgreen:

  16. @ Review Blog! : Tentu, justru generasi tualah yang jati dirinya terbilang cukup konsisten, meskipun saya tidak menjamin setiap generasi tua seperti itu.

    @ Yari NK : Pengaruh luar, apapun itu, baik yang ‘memperburuk’ maupun ‘memperbaiki’ memang akan berdatangan. Jadi, masuknya pengaruh luar tersebut dalam diri kita hendaknya kita juga yang mengelolanya. Seperti yang saya tulis pada beberapa balasan komentar sebelumnya, yaitu kita harus bisa mengelola dinamika jati diri kita. Terimakasih masukannya, memang benar bahwa harus ada asumsi kita telah mengetahui mana yang baik dan buruk.

  17. Ehm… cuma mau mengingatkan aja bagi mereka yg beragama Islam, kan sudah ada dua pegangan yang tidak boleh dilupakan dari hidup kita yaitu Qur’an dan Hadist. Jati diri sebagai Muslim adalah tidak melanggar kedua hal tersebut. Memang susah, tapi ini dapat menjadi sebuah perjuangan hidup.

  18. become a street punk is oke,
    express yourself with your own way..
    but never disturb public orderliness..

    salam kenal,
    si kucing ganteng

  19. be your self, and banyak-banyak belajar dari pengalaman aja

  20. @ purmana : semoga mereka tidak melupakan hal-hal tersebut

    @ deteksi : of course, i’ll try to let it orderly.
    Salam kenal kembali dari StreetPunk

    @ dodot : pengalaman pun dapat memperkuat jati diri

  21. Apdet, apdet… 😆

    *digampar*

  22. @ Cynanthia : oke oke, udah ku apdet

  23. Untuk memahami diri sendiri tidak mudah, apalagi memahami kekurangannya.

  24. @ edratna : benar sekali. Ibarat pepatah ‘semut di seberang lautan kelihatan tetapi gajah di pelupuk mata tak kelihatan’

  25. Mungkin susah menjadi (baca: menerapkan) “be yourself”. Tau sajalah, di dunia ini jumlah manusia itu banyak sekali. Dan bukannya tidak mungkin kalau ada orang yang memiliki banyak kesamaan.

    Ibaratnya manusia itu merupakan kombinasi 23 huruf. Tuhan membuat (menulis) kombinasi huruf itu dengan mata tertutup. Hasilnya memang beragam, tapi pasti ada beberapa yang sama. Well, uh, GAK semuanya sama. Cuma beberapa. Karena itu sekilas ada manusia yang sangat mirip.

    Yang gue percaya semua manusia itu RUMIT. Walaupun ada yang sama, mereka tidak bisa identik.

    Sebagai punk, kita harus menerapkan asas DIY. *halah, gak nyambung…

  26. @ scarion :
    memang sulit, tapi dengan kesungguhan, bisa kok.
    yang mau ditekankan di sini yaitu supaya seseorang jangan gampang terpengaruh sama orang lain.
    mengenai keberagaman, itu pasti akan ada.
    DIY itu apaan ya?

  27. streetpunk tidak tau DIY!?

    DIY adalah inti ajaran PUNK.

    Do it Yorself
    (…mirip sama be yourself kan?)

    Itulah PUNK yang sebenarnya. Jangan terbawa arus menyesatkan. Dunia terus bergerak karena ada elo. The world is according to you!

  28. @ scarion :
    Do It Yourself dan jangan terbawa arus menyesatkan, setuju!

  29. wah ini postingan paling bagus tentang diri sendiri yang saya baca,,eniwei iya setuju,,yang terbaik adalah be ourselves not anybody else…

  30. @ koolsonic :
    terima kasih banyak 😀 . Be ourselves dan tidak terpengaruh yang lain 🙂 .

  31. Banyak nasihat dari film2, tv, majalah, buku yang nampak Cliche’ dan simple “Be Yourself”… tapi implementasinya “Susah” 🙂 I will be myself deh.. thenk you penyegarannya…

    sekalian mengutip..

    “The only completely consistent person are the dead” ~Aldous Huxley~

  32. @ reedler :
    Kalau dilakukan secara bertahap, saya yakin konsistensi diri kita akan tercapai. Terimakasih kembali atas kutipannya. 🙂


One Trackback/Pingback

  1. […] menjawab pertanyaan di atas, ada baiknya kita melihat secara jelas apa yang sebenarnya ingin saya sampaikan (TERUTAMA SEKALI AGAR ANDA SEMUA TIDAK MENUDUH SAYA […]

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: